Revolusi Seks di Era Millenium

Posted: Maret 1, 2008 in All About The Love Revolution

Berita Di zaman Siti Nurbaya, perkawinan ditentukan oleh keluarga dengan pertimbangan bibit, bobot dan bebet. Perempuan harus menerima keputusan keluarga dan tidak bisa memilih pasangan hidupnya sendiri. Perempuan harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru dan berusaha menumbuhkan rasa cinta. Cinta bisa tumbuh belakangan. Kelahiran anak sebagai bukti tumbuhnya rasa cinta.

Cinta adalah ukuran sesuatu perkawinan dapat berlangsung. Pilihan orang tua dianggap kuno. Mereka ingin menunjukkan pilihannya berdasarkan cinta, berani mengambil resiko apapun yang bakal terjadi. Buat perempuan, untuk menunjukkan cinta dan kesucian dituntut mampu mempersembahkan keperawanan dalam malam pengantin. Laki-laki merasa terhina kalau istrinya tidak perawan dan sampai hati pula menceraikan istrinya gara-gara tidak perawan. Perempuan hanya menerima perlakuan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Perempuan diajarkan oleh orang tua dan masyarakat agar bisa memuaskan suami, mengikuti suami, dan menjaga agar suami bisa bekerja dengan baik. Dalam hal seks, perempuan yang baik harus bertindak pasif. Harus bisa menunjukkan diri jinak-jinak merpati, memperlihatkan cinta lewat pandangan, gerakan dan melalui kata-kata.

Dalam menyatakan keinginan untuk melakukan hubungan seksual pun menunggu kapan suami menghendaki dan kalau tidak menginginkannya harus menolak secara halus tanpa disadari oleh suaminya. Perempuan harus merasa puas kalau suami puas, tetapi perempuan tidak harus memikirkan dirinya apakah puas atau tidak. Malahan beberapa perempuan tidak pernah tahu bahwa klimaks dalam melakukan hubungan seksual adalah mencapai orgasmus. Yang ia tahu adalah hubungan seksual menimbulkan nyeri pada dirinya dan melihat kebringasan suami dalam melampiaskan nafsunya. Dalam zaman ini seakan-akan aktivitas seks didominasi oleh laki-laki, perempuan hanyalah menerima apapun perlakuan laki-laki, dan perempuan harus mengabdi untuk laki-laki dan keluarganya. Perempuan yang berani menyatakan cinta dianggap sebagai perempuan jalang. Apalagi sampai meminta hubungan seksual, tabu buat perempuan.

Globalisasi dan kemajuan teknologi mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dalam segala bidang termasuk nilai-nilai seks. Emansipasi Barat mulai mempengaruhi cara pandang perempuan Indonesia. Pada Seminar Citra Pria Bali tahun 2000 yang diselenggarakan Lab. Psikiatri Unud, 1991 di Denpasar saya menyampaikan hasil penelitian terhadap masyarakat kota Denpasar yang berumur 18-65 tahun. Dari penelitian ini didapatkan bahwa, keperawanan bukan merupakan syarat utama dalam perkawinan; kepala rumah tangga dipegang oleh laki-laki; dalam menyatakan keintiman hubungan seksual, inisiatif sebaiknya datang dari siapa saja yang berminat. Tampaknya laki-laki dan perempuan menghendaki adanya komunikasi dalam runah tangga, misalnya dalam menyatakan rasa cinta sebaiknya dinyatakan dengan sikap dan kata-kata. Komunikasi sangat bermanfaat dalam memecahkan permasalahan rumah tangga. Pandangan ini diberikan oleh responden laki-laki maupun perempuan. Laki-laki mengharapkan agar perempuan berhias dengan dandanan ringan, tidak mencolok, sedangkan perempuan mengharapkan laki-laki agar memahami etika pergaulan. Disini sudah mulai ada perubahan dalam peran seksual. Masyarakat masih memandang rendah pada perempuan yang menjajakan cinta, tetapi masyarakat tidak memberikan komentar negatif kalau laki-laki melakukan hal itu.

Bagaimana halnya sekarang ? Pengaruh Film dan sinetron yang gencar mendominasi tayangan TV sangat besar peranannya dalam mengubah pandangan orang tentang seks. Kebutuhan seksual adalah alami dan wajar kalau diekspresikan lewat tindakan nyata. Bukan zamannya lagi menyatakan bahwa seks adalah penyaluran kebutuhan cinta dan tidak perlu lagi dikaitkan dengan norma-norma agama karena kebutuhan seksual adalah kebutuhan biologis. Sekarang perempuan nampaknya mulai agresif dalam menyatakan ketertarikan dengan lawan jenisnya, dengan tenang mencari laki-laki, menelpon dan datang kerumahnya. Perempuan mulai menggunakan nilai-nilai yang dilihat dalam tayangan TV dan isi cerita novel dalam mengukur kadar cinta laki-laki. Cinta harus dinyatakan secara verbal dengan tindakan nyata berupa rayuan dan pujian, dan tak cukup dinyatakan dengan hanya diam di rumah. Perempuan mulai berada dalam dunia khayalan. Mereka tidak pernah tahu bahwa di negara-negara baratpun apa yang ada di film tidak banyak dilakukan oleh laki-laki, sama seperti di Indonesia. Tayangan film dan cerita novel hanyalah kehidupan yang dilakukan ketika mereka pacaran, dan hanya merupakan kehidupan fantasi. Setelah menikah mereka disibukkan untuk mengejar karier dan mencari nafkah, mereka tidak sempat mengucapkan I Love you. Ketidakpuasan dalam rumah tangga ini membuat mereka mencari yang sesuai dengan khayalan itu. Dan sekarang ternyata perselingkuhan tidak hanya dilakukan oleh laki-laki dengan pasangan yang masih single, perempuanpun sudah mulai membiasakan diri mempunyai teman kencan PIL (Pria Idaman Lain) diluar rumah. Dimana mereka perselingkuhan bukan hal tabu, tetapi suasana yang menyenangkan, memberikan kenikmatan, dan untuk menunjukkan perilaku sebagai orang modern. Kemajuan teknologi dalam komunikasi dan adanya akomodasi seperti hotel-hotel memberikan mereka kesempatan untuk melakukan hal ini. Mereka tidak diikat lagi oleh norma-norma yang ada dimasyarakat. Hubungan seksual tidak hanya dilakukan oleh pasangan suami istri, tetapi oleh mereka yang terikat dengan cinta. Cinta tidak cukup diucapkan dengan kata-kata, dengan rayuan manis, namun harus dilanjutkan dengan ciuman dan hubungan seksual. Tanpa melakukan ini belum menunjukkan cinta. Ciuman cinta hanyalah sebagai ucapan selamat pagi dan selamat siang, dan cinta yang mendalam dilanjutkan dengan hubungan seksual. Belakangan mulai dirasakan bahwa hubungan seksual tidak hanya ungkapan cinta, tetapi untuk memperlancar bisnis, untuk meningkatkan karier, untuk memperoleh status yang lebih tinggi. Bagi mereka yang hidupnya sudah mapan, uang dan kedudukan bukan lagi kebutuhan yang harus di kejar, hubungan seksual dengan ganti-ganti partner dianggap sebagai ajang rekreasi yang menarik dan menyenangkan. Namun belakangan ini justru di Negara-negara Barat mulai ada ketakutan dengan munculnya penyakit AIDS, ganti-ganti partner mulai ditinggalkan dan mereka sangat berhati-hati dalam memilih teman kencan melakukan hubungan seks. Tetapi di Indonesia penerangan pencegahan AIDS masih dianggap sekedar lewat, slogan kosong. Mereka masih tetap terpengaruh dengan film Return to Eden, the Bold and The Beautiful, Dynasti dan yang sejenisnya.

Akhirnya anak yang dilahirkan hanyalah suatu kebetulan. Kalau mereka tidak menghendaki kelahirannya, maka mereka melakukan abortus tanpa merasa berdosa. Mereka memandang hanya gumpalan darah, dan kalau toh berupa janin, itu hanya benda yang belum tahu apa-apa. Lebih baik digugurkan kalau memang tidak mampu membiayai. Kehadiran anak hanyalah kehadiran benda, yang kalau tidak diinginkan dan tidak memberikan masa depan yang cerah buang saja, gugurkan saja. Ini merupakan pandangan dari segi ekonomi dan segi kepentingan individu sebagai manusia untuk mendapatkan kesenangan.

Kalau perempuan merasa bertanggungjawab terhadap generasi baru, maka perlu direnungkan:

  • Kebutuhan seksual yang merupakan kebutuhan dasar manusia tidak hanya bisa diwujudkan melalui hubungan seksual, bisa dalam bentuk lain yang bermanfaat untuk kehidupan
  • Kebutuhan melakukan hubungan seksual tidak hanya merupakan kebutuhan biologis, tetapi juga merupakan perwujudan cinta kasih sebagai suami isteri. Seni bercinta yang dilakukan melalui hubungan seksual yang diwarnai cinta kasih akan memberikan kenikmatan yang bertahan lebih lama. Hal ini akan menjamin kelestarian kehidupan berumah tangga. Kelahiran anak merupakan perwujudan cinta kasih suami isteri. Anak tidak hanya untuk dilahirkan dan dipajangkan, tetapi menuntut tanggungjawab suami istri untuk menghantarkan anak ke masa depan yang cerah.
  • Kebutuhan hidup tidak akan pernah habis-habisnya kalau diikuti, luangkan waktu sejenak untuk menikmati apa yang telah dimiliki, tanpa motivasi yang terlalu muluk-muluk diluar kemampuan dan kesadaran sebagai pasangan suami istri dan berbahagialah selalu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s