Filsafat Cinta: Eleksir Cinta

Posted: Maret 1, 2008 in All About The Love Revolution

 

Setelah berabad – abad para penyair, pujangga serta filosof berusaha mengungkapkan arti cinta, namun definisi (arti) cinta yang selama ini diungkapkan selalu tidak pas dengan arti yang sesungguhnya. Isi tulisan ini mengungkap arti cinta yang sebenarnya

 

Para penyair Persia menamakan cinta itu elexir (iksir). Para ahli kimia percaya bahwa ada dzat yang bernama “eleksir” atau “batu filosof” (kimiya) yang dapat merubah satu unsur ke unsur lainnya. Sudah berabad-abad lamanya mereka mencari bahan ini. Para penyair mengambil alih terminologi ini dan mengemukakan bahwa yang dimaksud engan eleksir yang sesungguhnya, yang mempunyai daya transfrormasi adalah cinta, karena cintalah yang dapat mengubah suatu substansi. Cinta secara absolut adalah eleksir dan mengandung sifat batu filosof yang mengubah sifat suatu unsur ke sifat lainnya. Manusiapun termasuk bahan dengan berbagai macam sifat.

 

 

“Manusia adalah tambang, seperti tambang emas dan perak.

Cintalah yang membuat hati itu menjadi hati

Jika tiada cinta tiada hati, hanya lempung dan tanah

Setiap hati yang tidak berkobar, bukanlah hati

Hati yang beku hanyalah bak segenggam lempung.

Ya Allah berikan kepadaku dada yang terbakar,

dan didalamnya hati yang berkobar api

Salah satu pengaruh cinta adalah kekuatan

Cinta adalah tenaga agung

Yang membuat sipenakut jadi pemberani”

 

 

Seekor ayam betina akan tetap melipat sayapnya bila ia sendirian, berjalan santai mencari cacing cacing kecil untuk dipatok. Ia akan sedikit bersuara dan tidak tegar dihadapan seorang bocah yang lemah sekalipun. Akan tetapi, apabila ayam itu mempunyai anak maka cinta mengambil tempat dipusat eksistensinya dan karakternya berupah total. Sayap yang tadinya dilipat, kini diturunkan sebagai tanda siap membela diri. Ia mengambil sikap menyerang, bunyi koteknyapun kini bertambah keras dan lantang. Kalau sebelumnya ia melarikan diri dari kemungkinan bahaya, kini ia menyerang dengan gagah berani. Inilah cinta yang mengubah ayam betina yang ketakutan menjadi seekor hewan berani.

 

 

Cinta membuat seorang yang lamban dan malas menjadi lincah dan terampil, bahkan membuat orang yang berfikir lamban menjadi gesit. Seorang remaja putra atau putri bila masih lajang, tidak ada yang mereka fikirkan selain dari yang berhubungan langsung dengan diri mereka. Lihatlah betapa mereka mulai prihatin atas nasib orang lain begitu mereka jatuh cinta dan membentuk rumah tangga. Keinginan merekapun bertambah dan bila mereka punya anak, semangat mereka berubah total. Kini pemuda yang lamban dan malas itu telah menjadi lelaki aktif dan gesit, dan si remaja putri yang biasanya lengket dengan selimut bahkan pada siang hari, kini bergerak bagai kilat apabila mendengar bayinya menangis dalam ayunan. Kekuatan apakah yang telah begitu mencongkel dua remaja lamban dan lesu ini ? Tiada lain, Cinta.

 

 

Cintalah yang mengubah si kikir menjadi dermawan, sipemarah dan kaku menjadi penyabar dan penuh toleransi. Cintalah yang membuat burung tamak pengumpul gabah yang hanya memikirkan dan mengurus diri sendiri, menjadi makhluk murah hati, ia langsung memanggil anak-anaknya jika menemukan biji jagung. Cintalah yang mempunyai kekuatan ajaib membuat si ibu yang sampai kemarin masih seorang anak yang tidak berguna, kerjanya hanya makan dan tidur serta suka ngambek dan marah marah, kini tabah dan sabar menghadapi lapar, kurang tidur dan kusut untuk mengurus bayinya. Cintalah yang memberikannya kesabaran untuk memikul kesulitan.

 

 

Penghalus jiwa, penyingkir kemalasan dan kekasaran rohani atau dengan kata lain penyuci perasaan, penyatu tujuan dan konsentrasi serta penghilang kebingungan merupakan suatu kekuatan dan kekuatan itu lahir dari paduan pengaruh cinta.

 

 

Dalam bahasa puisi dan sastra bila cinta dibicarakan kita menemukan suatu efek yang lebih dari pengaruh manapun, daya cinta membawa inspirasi yang melimpah

 

 

Si pungguk belajar menyanyi, karena rindu pada rembulan

Pabila tidak, nyanyian dan lagu takkan tergubah di paruhnya (Rumi, Matsnawi).

Meskipun keistimewaan rembulan ada diluar wujud si pungguk, pada hakikatnya itu tidak lain dari kekuatan cinta itu sendiri.

Apakah kau kira Majnun tergila-gila oleh dirinya sendiri ?

Pandangan Laila lah yang melambungkannya ke bintang (Hafiz)

 

 

Cinta membangunkan tenaga yang tidur, membebaskan daya kekuatan yang dirantai belengu bagai pemcahan atom dan pelepasan tenaga atom. Cinta berkobar dengan inspirasi dan membina pahlawan. Betapa banyak penyair, filosof dan seniman yang diciptakan oleh tenaga cinta yang kuat dan dahsyat ini!

 

 

Cinta menyempurnakan jiwa, dan menampilkan kemampuan-kemampuan dahsyat yang terpendam. Dari sisi pandang daya persepsi, cinta itu mengilhami, dari sisi pandang emosi cinta itu mengeraskan kemauan dan tekad. Dan bila cinta bangkit ke aspeknya yang tertinggi, cinta membawa mukjizat dan keajaiban. Cinta membersihkan rohani dari hasud, dengan kata lain cinta adalah pencahar yang membuang sifat-sifat aib yang lahir dari egoisme atau sikap dingin dan tawar, seperti iri hati, serakah, pengecut, penghayal serta sifat suka memuji diri sendiri. Cinta mencabut sifat dendam dan dengki, meskipun frustasi dan putus cinta dapat menimbulkan kompleks dan hal-hal yang tidak disukai.

 

 

Lantaran cinta yang pahit menjadi manis

Lantaran cinta, batangan tembaga menjadi emas (Allamah Thaba’thabai)

 

 

Dalam jiwa, pengaruh cinta selaras dengan perkembangan dan pertumbuhan, dalam hal fisik selaras dengan peleburan dan perusakan. Pengaruh cinta terhadap fisik (badan) berlawanan dengan pengaruhnya terhadap jiwa. Dalam hal badan, cintalah penyebab perusakan dan wajah pucat serta tubuh kurus kering karena keracunan dan kekacauan pada system syaraf dan pencernaan. Bahkan mungkin seluruh pengaruhnya terhadap badan bersifat destruktif (merusak) Akan tetapi tidak begitu pengaruhnya terhadap jiwa- hal itu bergantung pada obyek cinta dan bagaimana seseorang dapat bereaksi terhadap obyek itu.

 

 

Lepas dari pengaruh-pengaruh sosial, cinta berkuasa menyempurnakan jiwa dan pribadi lantaran ia melahirkan kekuatan, gairah, kedamaian, kebulatan tujuan dan tekad. Ia menghapus kelemahan, kekikiran, kejengkelan, kebosanan, dan kebingungan.

 

 

Jalan rohani merusak badan

Dan sesudah merusaknya, memulihkan kemakmuran.

Wahai jiwa bahagia, yang demi cinta dan ceria

Menyerahkan tungku dan rumah, harta dan kekayaan

Meruntuhkan rumah demi perbendaharaan emas

Dan dengannya membangun yang lebih baik

Membendung air dan menguras dasar sungai

Lalu mengalirkan air jernih di situ

Manusia sempurna yang menyadari kebenarnan hikmah

Asyik, takjub, mabuk dan gila oleh cinta

Bukan bingun sampai membelakangi Dia

Tapi takjub, hanyut, mabuk pada Yang Tercinta (Rumi Matsnawi)

 

 

Cinta melepaskan manusia dari egoisme dan cinta diri, cinta apapun – hewani dan seksual, cinta ayah bunda atau insani- dan apapun kualitas dan keistimewaan cinta yang dimiliki si tercinta, apakah nekad dan berani, artistic atau arif, atau apakah ia bagus akhlak, bagus dalam bermasyarakat atau atribut-atribut khusus lainnya. Cinta diri adalah suatu kendala yang sifatnya membatasi dan defensive. Cinta meruntuhkan kendala defentif inidan menggantikannya dengan cinta kepada selain diri sendiri. Sebelum melangkah keluar dari dirinya sendiri, manusia itu lemah, kaku, kikir, tamak, anti manusia, pemberang, serakah dan sombong. Jiwanya tidak memancarkan kecemerlangan, ia tidak bersemangat atau bergairah, selalu dingin dan terpencil. Namun begitu ia keluar dari diri dan meruntuhkan kendala-kendala defensive ini, sifat dan kebiasaan-kebiasaan itupun runtuh.

 

 

Baju siapapun yang lumat oleh cinta.

Tercuci bersih dari tamak dan noda (Rumi, Matsnawi)

 

 

Cinta mengarahkan kasih sayang dan naluri manusia keluar dirinya, cinta meluaskan eksistensinya dan mengubah titik focus dalam wujud manusia. Dengan alasan yang sama, cinta adalah factor moral agung dan mendidik, dengan syarat bahwa ia harus dituntun dengan baik dan digunakan dengan tepat.

 

 

Bila kasih sayang pada seseorang atau sesuatu mencapai puncaknya hingga perasaan kasih sayang tersebut menguasai dirinya dan menjadi penguasa mutlak atas dirinya, itu dinamakan cinta. Cinta adalah puncak kasih sayang dan perasaan

 

 

Seorang pemuda yang merasa dirinya gemetar ketika melihat seraut wajah cantik atau seurai rambut, atau merasa menggigil ketika disentuh tangan mulus , perlu mengetahui bahwa yang bekerja pada dirinya tidak lain dari proses fisik hewani. Cinta seperti ini datangnya dengan cepat demikian juga perginya. Perasaan seperti ini tidak dapat diandalkan dan dipuji, hal itu mengandung bahaya dan membunuh kebaikan. Hal itu bukanlah cinta melainkan nafsu.. Sepanjang manusia dikuasai nafsunya, ia tidak akan keluar dari dirinya, ia mencari seseorang atau sesuatu yang menarik untuk dirinya dan ia sangat menghendakinya. Bila ia berfikir tentang objek cinta, ia berfikir dengan gagasan bagaimana memperoleh keuntungan dari bersatu dengannya atau paling-paling bagaimana ia memperoleh kenikmatan daripadanya. Jelaslah keadaan demikian tidak dapat menjadi penyempurna atau pendidik jiwa manusia.

 

 

Bagaimanapun manusia berada di bawah pengaruh perasaan manusiawinya yang lebih tinggi, orang yang dicintai menerima penghargaan dan penghormatan di matanya. Ia berusaha membahagiakan orang yang dicintainya. Ia siap mengorbankan dirinya demi memenuhi keinginan orang yang dicintainya itu. Perasaan ini melahirkan kesucian, keikhlasan, kehalusan, kasih sayang dan kedermawanan. Berlawanan dengan jenis pertama tadi, yang melahirkan kekasaran, kekejian dan kejahatan. Kebaikan dan kasih sayang ibu terhadap anaknya merupakan jenis kedua ini. Pengabdian dan cinta suci dan para abdi Tuhan, sebagai mana patriotisme dan cinta pada prinsip juga termasuk kategori yang sama.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s