KABUT PAGI

Posted: Februari 18, 2008 in All About The Love Revolution

Kokokan ayam jantan di halaman belakang rumah benar – benar mengejutkan tidur lelapku. Huh. Hari sudah hampir siang rupa – rupanya. Bisik hati kecilku. Nasibku agak baik karena fajar belum menyingsing. Maka sempatlah untuk aku merapikan kamar. Kewajibanku sebagai seorang yang menumpang dirumah saudara perlu didahulukan. Kewajiban yang tidak perlu dipertikaikan lagi.

Lantas aku terus bangkit dari tempat tidurku. Sambil menghirup udara segar. Terasa begitu nyaman sekali. Kabut – kabut putih sudah mulai kelihatan di luar jendela. Menandakan suhu yang dingin sewaktu terbitnya sang mentari. Namun kedinginan yang wujud itu tidaklah sampai menusuk hingga ke sum – sum tulangku. Jadi kedinginan seperti itu tidaklah memberi aku suatu masalah untuk segera berangkat mandi.

Aku langsung duduk di atas kursi belajarku setelah selesai mandi. Termenung. Memikirkan kehidupan yang bakal dilalui. Apakah yang bisa terjadi hari ini? Adakah kabut pagi ini akan bertukar menjadi titisan embun di celahan dedaunan yang menghijau? Ataupun kabut pagi ini bertukar menjadi kabut ribut sepertimana lagu yang dinyanyikan oleh kumpulan Butterfingers? Puji Tuhan. Hanya Dia Yang Maha Mengetahui.

Seperti biasa, aku terus berimajinasi kedunia penuh khayalanku. Pagi – pagi sebeginilah yang banyak memungkinkan tuk luapkan semua ide dari kepalaku. Barangkali mungkin karena otakku masih segar. Masih belum dinodai dengan hal – hal fana dari luar. Hanya satu kemungkinan hidup yang sekadar menjadi hipotesis diriku. Mungkin ada kebenaran dibalik hipotesisku yang tidak seberapa itu. Kemungkinan yang tiada kepastiannya. Biarlah. Pasti ingatanku pada hipotesis ini akan berlalu seiring dengan perjalanan waktu.

Aku baru teringat tentang hari ini. Hari ini adalah hari Sabtu. Hari cuti hujung minggu bagi Kota sebesar Jakarta. Jadi tidak perlulah aku keluar bekerja hari ini. Boleh bermalas – malasan dengan alasan hendak istirahat. Aku coba untuk memejamkan mata. Namun, hajatku tidak kesampaian. Pacar baruku mengajak aku untuk menemaninya ke pantai Ancol. Yalah. Jawaban ringkas yang terpaksa aku lontarkan untuk mengiyakan ajakannya. Lagipun aku sudah lama tidak ke sana. Di sana nanti, bolehlah aku menghirup udara segar dari pantai di waktu pagi. Oh ya. Pantai Ancol hanya terletak lebih kurang 15 km dari rumahku. Aku agak bernasib baik kerna cuaca hari ini begitu cerah. Tiada tanda-tanda hujan akan turun. Maklumlah sekarang ini musim panas. Jadi, terpaksalah aku berpenat ria dengan keadaan cuaca panas di Jakarta.

Sesampainya di sana, aku terus melabuhkan diri di atas batu besar. Sambil memerhatikan kekasih pujaan hatikku dari jauh yang sedang asyik bermain pasir. Jelas kelihatan keriangan di wajahnya. Angin bertiup sepoi – sepoi. Terasa begitu nyaman sekali apabila rambutku dibelai lembut oleh sang bidadari cantikku. Mungkin aku boleh menyambung kembali lamunanku yang terhenti seketika tadi. Baru saja aku ingin menyambung lamunan, aku tertarik dengan dialog antara 2 orang pemuda yang duduk tidak berjauhan dariku. Tambahan lagi, suara mereka agak kuat hingga aku dapat mendengar setiap butiran percakapan mereka.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s