7 KESALAHAN DALAM BERHUBUNGAN DENGAN LAWAN JENIS

Posted: Februari 18, 2008 in All About Love

Bagi beberapa orang, menjalin hubungan dengan lawan jenis merupakan hal yang mudah. Namun tidak sedikit orang yang mengalami masalah serius dalam hal ini, yang sebagian besar disebabkan karena kurangnya pemahaman yang benar. Berikut ini 7 kesalahan umum yang sering terjadi:

1. Kita salah mengartikan perhatian dari lawan jenis

Seringkali, dibawah tekanan rasa frustasi atau putus asa yang sering dialami saat kita ingin memiliki pasangan atau menikah, banyak lajang yang bereaksi secara berlebihan terhadap perhatian apapun dari lawan jenis, terutama jika seseorang tampak menarik bagi mereka. Misalnya, jika seorang pria melihat wanita dua kali, wanita itu bisa berpikir bahwa pria ini menyukainya. Sedang jika seorang wanita duduk dengan seorang pria dalam suatu acara, pria ini berpikir wanita itu memberinya “lampu hijau”.

Kesalahan dalam mengartikan perhatian inilah yang sering menjadi masalah utama bagi para lajang pria dan wanita untuk memiliki hubungan pertemanan atau persaudaraan yang murni. Keduanya berjaga-jaga, mengamati dan mengartikan sinyal-sinyal, daripada berpikir bahwa mereka dapat menikmati percakapan dan keberadaan sebagai teman tanpa ketertarikan romantis.

Banyak lajang Kristen bahkan menikmati mengirim sinyal-sinyal lalu di kemudian hari menyangkalnya. Bagaimanapun juga, sikap tersebut lahir dari ego mereka, dengan berasumsi bahwa satu atau dua orang sudah berada dalam jangkauan mereka, dan berpikir mungkin satu saat mereka akan dapat mendekati orang tersebut, meskipun sebenarnya mereka tidak merasa benar-benar tertarik. Mereka menyamarkan tindakan mereka dengan mengatakan pada semua orang, bahkan juga di depan orang tersebut bahwa mereka hanya berteman, agar perkataan itu dapat dipakai sebagai dalih jika mereka ingin menjauh dari hubungan tersebut. Sinyal-sinyal yang mereka kirimkan benar-benar menyebabkan salah paham, dan tindakan tersebut jelas-jelas menyakiti hati orang lain dalam proses untuk memberi makan ego mereka.

2. Kita berharap terlalu banyak dan bertahan terlalu lama dalam suatu hubungan

Bantulah diri anda sendiri, dengan mengakui bahwa anda mempunyai ketergantungan emosional yang kita sebut “cinta”, atau bahkan mengakui bahwa anda benar-benar mencintai seseorang, namun akuilah dengan penuh kesadaran bahwa anda sedang menjalani hubungan yang salah dan keluarlah dari sana.

Bagaimana anda bisa keluar? Dengan mengambil langkah tegas, seperti yang Yesus katakan dalam Matius 5:29-30. Jika anda sedang berada dalam suatu hubungan dan anda diperlakukan dengan tidak hormat, sembrono, atau tidak baik, maka itu adalah tanda bahwa anda telah bertahan terlalu lama dan berharap terlalu banyak. Jika anda berharap dia akan berubah, anda tidak tahu banyak tentang kecenderungan manusia. Selama dia bisa tetap menjalani hubungan ini dengan memperlakukan anda seenaknya, sepertinya sikapnya tidak akan berubah. Jika anda tidak bahagia dengan perlakuan yang anda terima dari seseorang sebelum menikahinya, anda bisa yakin bahwa setelah menikah, perlakuan yang anda terima akan sama bahkan lebih buruk.

3. Kita tidak selalu pintar membaca sinyal berbahaya dalam suatu hubungan

Seringkali para lajang memiliki pilihan-pilihan yang buruk dalam beberapa hubungan yang mereka jalani, namun kelihatannya mereka tidak bisa melihat sinyal-sinyal yang berbahaya, bahkan sering mereka hanya tidak mau untuk melihatnya. Ingatlah bahwa saat emosi kita terlibat dalam suatu situasi, kita bisa sangat mudah kehilangan perspektif. Anda tidak dapat mempercayai emosi, karena begitu emosi mengalir, dan perasaan-perasaan romantis mulai memenuhi kepala anda, anda dapat kehilangan perspektif dalam waktu singkat. Inilah beberapa sinyal yang berbahaya:

a. Perbedaan usia yang signifikan

Hal ini bervariasi, bersifat individual, dan tergantung pada jarak usia yang terlibat. Walaupun perbedaan usia tidak selalu menjadi suatu masalah, namun ini adalah satu hal yang perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.

b. Perbedaan latar belakang keluarga

Faktanya tidak ada 2 keluarga yang benar-benar mirip, namun lihatlah dasarnya: Nilai-nilai apakah yang diajarkan oleh kedua keluarga? Jenis hubungan seperti apa yang ada di antara masing-masing anggota keluarga? Beberapa keluarga sangat dekat satu sama lain sementara yang lainnya tidak.

c. Perbedaan prioritas kehidupan rohani

Jika satu orang dalam sebuah hubungan mempunyai prioritas yang lebih tinggi dalam kehidupan rohani dibanding pasangannya, ini adalah sebuah sinyal yang benar-benar berbahaya dan tidak seharusnya diabaikan. Biasanya jika anda terlibat dengan seseorang yang “temperatur” rohaninya dibawah anda, anda tidak membawa mereka naik ke level anda, tapi anda yang akan turun ke level mereka. Hal ini sudah sangat sering terjadi.

4. Kita terlalu cepat dan terlalu jauh terlibat secara fisik

Di sinilah kita harus waspada terhadap filosofi dunia yang berusaha mempengaruhi pikiran kita tentang aspek fisik dalam sebuah hubungan. Kita telah diperingatkan dalam Roma 12:1-2, saat kita menganggap bahwa hubungan seks sebelum menikah adalah wajar, kita akan berakhir seperti dunia.

Jika anda tetap ingin menjaga kemurnian diri dalam kehidupan seksual dan mempertahankannya untuk satu orang dari Tuhan, bagaimanapun juga anda membutuhkan disiplin untuk menjaga kontak fisik yang minimum. Anda tidak dapat mempercayai reaksi kimia tubuh anda, sekali reaksi ini berjalan terlalu jauh, maka akan sangat sulit untuk kembali mengendalikannya. Maka sangatlah penting untuk menjaga kontak fisik tetap pada level minimum.

5. Kita berpikir bahwa satu-satunya persyaratan yang penting adalah pasangan kita seorang Kristen

Hanya karena seseorang itu Kristen dan cukup baik, belum tentu bahwa dialah satu-satunya orang yang dengannya kita akan bahagia dan menikah. Adalah penting jika anda mempertimbangkan baik-baik tentang hubungan anda sebelum memutuskan untuk menikah. Pertimbangkan bahwa emosi anda terlibat dan karenanya mungkin perspektif anda tidak begitu terfokus, mintalah pertimbangan lain dari orang-orang yang dapat dipercaya. Lakukan apa yang dapat anda lakukan untuk mengetahui apa yang akan anda jalani sebelum anda melangkah ke dalamnya, juga dengan pertimbangan-pertimbangan apakah seseorang ini adalah pasangan yang tepat untuk anda.

6. Kita membawa daftar kriteria tentang pasangan ideal dan menilai orang lain dengan egois dan terlalu cepat

Tidakkah mengagumkan bahwa Tuhan kita sanggup berurusan dengan segala perbedaan dan “keanehan” kita? Dia tidak mencari “robot” Kristen yang mempunyai penampilan dan perilaku yang mirip dalam semua hal. Kita memang mempunyai prinsip-prinsip Firman yang sama untuk diterapkan dalam kehidupan kita, namun di antara prinsip-prinsip tersebut, terdapat banyak ruang untuk keunikan individual dan kepribadian.

Banyak lajang yang kelihatannya mempunyai daftar panjang kriteria untuk pasangan yang potensial, dan alasannya mungkin sebagai reaksi dari banyaknya pernikahan yang gagal di sekitar kita. Sepertinya mereka mengamati kita dengan sangat jeli, memastikan bahwa kita dapat memenuhi kebutuhan mereka. Mempunyai panduan dalam menjalin hubungan sangat berguna untuk mencegah kita membuat keputusan yang berdasarkan emosi semata. Namun menilai seseorang untuk alasan yang egois adalah sesuatu yang terlalu jauh.

7. Kita berpikir bahwa keadaan apapun lebih baik daripada sendirian

Kita memang memiliki kebutuhan dasar untuk menjalin hubungan dengan orang lain, namun tidak benar bahwa kesendirian adalah kondisi terburuk di dunia. Perhatikan bahwa kesendirian tidak sama dengan kesepian. Banyak orang takut sendirian karena bagi mereka kesendirian sama dengan kesepian. Mereka belum belajar untuk mengisi waktu mereka dan mengalami kesendirian sebagai waktu yang berharga dan menyegarkan untuk mereka.

Kesepian adalah sebuah perasaan. Kita pasti pernah mengalaminya di saat-saat tertentu. Namun menjalin hubungan dengan lawan jenis semata-mata hanya untuk menggantikan rasa sepi itu adalah satu kesalahan besar. Ada hal-hal yang lebih buruk dari kesepian, dan dengan kasih karunia Tuhan, kita tidak perlu dikalahkan oleh rasa kesepian. Dia dapat mengambil kesendirian kita dan mengubahnya menjadi waktu yang produktif dan indah bersamaNya.

Walaupun anda sendirian, tidak berarti anda adalah orang yang tidak cocok dengan lingkungan sosial. Jangan mau tenggelam dalam kebohongan yang membuat kita putus asa. Saat kita merasa putus asa, kita bertindak dengan irasional. Kenali kebutuhan anda akan interaksi sosial dan rencanakan sesuatu. Anda tidak harus berkencan untuk mendapatkan teman atau agar anda tidak merasa sendirian. Bergabunglah dengan teman-teman dalam suatu komunitas dan luangkan waktu anda untuk berada bersama-sama dengan mereka. Kenallah dan terimalah mereka apa adanya, maka anda akan menemukan bahwa rasa kesepian itu telah pergi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s