Seorang Wanita Yang Luar Biasa, Sungguh Luar Biasa…

Posted: Februari 15, 2008 in All About Islam

Aaah… seorang wanita yang luar biasa…
sungguh luar biasa…

ketika SMA dulu, pada masa jahiliyah pribadi… Saya agak bingung juga, untuk apa punya agama, karena toh surga dan neraka juga belum tentu ada… lagi pula, orang sabar memang disayang Tuhan, tapi diinjak orang… Jadi, ketimbang mengikuti agama yang mengajarkan untuk sabar, lebih baik tidak ambil pusing…

Sampai suatu ketika saya ke Gramedia Bogor, dan (seperti biasa) membaca-baca tanpa membeli, sampai tiba-tiba saya membaca baris-baris kalimat ini…

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku.

Rabi’ah al Adawiyah… wanita yang luar biasa, sungguh luar biasa… Ketika ia membawa sebuah obor dan berkata akan membakar surga, serta ingin membekukan neraka… karena memang, orang-orang seperti saya, mungkin lebih mencintai surga ketimbang Allah, lebih menakuti neraka dibanding mencintai Allah, dan lebih sombong untuk berkata-kata bijak ketimbang mengakui bahwa hanya Allah yang Mahatahu… Kebijakan yang dipaksakan.

Seingat saya, ketika membaca bait2 itu… reaksi saya adalah… tidak, seingat saya, saya tidak bisa bereaksi apa-apa… hanya kaki saja yang bergetar-getar, ga jelas karena kalimat-kalimat itu atau AC-nya yang terlalu dingin…
Tapi yang jelas, memang kata-kata itulah yang membuat saya tidak bisa tidur malam itu, dan, untuk pertama kalinya dalam hidup, ingin belajar Sholat.

Dan tokoh ini pulalah yang kemudian mengantarkan ketertarikan saya pada Rumi dan Al-Ghazali. Jalaluddin Rumi mungkin lebih dekat pada Rabi’ah, dalam hal aliran pemikiran mahabbatullahnya (cinta/mahabbah ilahi). Tapi Al-Ghazali, secara inovatif, telah selangkah lebih maju dengan usahanya mengembalikan ajaran-ajaran sufistik pada rel dan koridor syariat. Usaha yang tidak sia-sia, karena Al-Ghazali kemudian menjadi salah satu rujukan yang mampu tampil secara umum di hampir semua aliran. Baik yang kagum dengan tassawuf maupun yang secara text-book menjalankan syariat berdasarkan tulisan dan bukan konteks (frase yang muncul dari perbincangan beberapa hari yang lalu dengan seorang sahabat saya yang kampring, Adi Nugroho Onggoboyo, dengan tajuk perbincangan : “Kebimbangan-kebimbangan Spiritual”), Al-Ghazali tetap mampu tampil sebagai salah satu referensi.

Membaca buku-buku ketiga orang tokoh besar ini pada minggu-minggu setelah syair-syair Rabi’ah tadi terngiang di telinga, adalah masa-masa yang mungkin paling indah dalam hidup saya. Ya, setidaknya saat itulah saat pertama AKHIRNYA saya membeli buku di Gramed diluar buku pelajaran yang disuruh guru. Masnawi dan Diwan Syams-i Tabriz dari Rumi menjadi pilihan pertama saya ketika itu. Dan memang, getaran yang terasa dari dunia sufistik, berbeda dari getaran lain yang pernah saya rasakan sebelumnya. Membaca keekstriman, konsistensi, dan kecintaan mereka yang besar terhadap Allahnya, adalah sebuah pengalaman yang mengguncangkan.

Anda pernah merasa tiba-tiba ada hawa dingin yang muncul di perut? hawa itu kemudian seperti menyebar, menjalar ke seluruh tubuh, dan sampai di ubun-ubun kepala bersamaan dengan sampainya hawa itu di ujung jari kaki… berulang kali. Seluruh bulu kuduk kemudian terasa berdiri, rambut di kepala anda terasa kaku, dan anda merasakan kedinginan yang amat sangat di dalam tubuh anda hingga tanpa kuasa anda tahan, seluruh tubuh anda akan bergetar dengan hebat… Seiring setelah getaran itu berakhir, ada sebuah tekanan luar biasa pada sebuah titik diantara kedua mata anda, dan tiba-tiba anda hanya akan merasa… nyaman… begitu nyaman dan tenang dalam hati anda, sehingga satu-satunya kata yang akan keluar dari mulut anda adalah… Subhanallah…

Kejadian semacam itu sebenarnya seringkali saya rasakan ketika dulu pernah belajar beberapa metoda meditasi dan hipnotis diri, yang pada dasarnya juga berusaha mengejar tahap trance itu. Tapi ini lain… ini terjadi bukan dalam alam meditasi/bawah sadar. Ini terjadi justru ketika anda sedang sadar, dan anda tiba-tiba akan merasa sedang berlari mengejar sebuah titik eksistensi, titik kesadaran tertinggi sebagai seorang manusia. Kesadaran bahwa sebenarnya eksistensi kita itu hanyalah semu, dan kesejatian hanya datang dari Allah.

Itulah yang akan anda rasakan… ketika anda terguncang.
Dan guncangan itu, secara sejati akan anda rasakan pada momen-momen tertentu, dan dipicu oleh impuls yang tepat. Ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah impuls yang paling efektif. Dan impuls kedua yang paling efektif setelah itu, adalah mengingat tentang mati. Tapi tetap, yang perlu anda cari lebih dulu adalah momentumnya. kalau tidak ketemu, ciptakan!

Dan memang, setelah membaca buku-buku ketiga orang itu, seolah buku-buku “cinta” lain terasa hambar… sehambar sayur tanpa diberi garam dan terlalu banyak kentang (karena kentang menyerap garam). Pada saat itulah kemudian saya mulai mencampakkan buku Kahlil Gibran yang sebelumnya begitu populer sehingga saya pun tertarik untuk membelinya. TIDAK! Gibran tidak mengajarkan cinta yang sejati. Ia lebih banyak mengajak pembacanya untuk menjadi melankolik tragis dan menangisi cinta-cinta pada makhluk yang tidak kesampaian. Dan karenanya, justru lebih berbahaya dalam menciptakan berhala-berhala yang tidak kelihatan dalam jiwa. Tapi wajar, Gibran memang lebih dikenal sebagai seorang penyair, bukan sebagai pecinta sejati. Dan membandingkan cinta yang diusung Gibran dalam syair-syairnya, dengan cinta yang diusung Rabi’ah dan Rumi dalam kisah-kisah mereka, adalah seperti membandingkan berenang di sebuah mangkuk, dengan berenang di sebuah danau… dengan kata lain, memang tidak bisa dibandingkan. Tapi toh dua-duanya sama-sama dianggap “indah”, setidaknya dari segi sastra dan tata bahasa. Selain itu, keduanya sama-sama dijiplak oleh Ahmad Dhani dari Dewa dalam album-albumnya. Kalau “Sayap-sayap Patah” milik Gibran dijiplak Dewa dalam album “Pandawa Lima”, maka “Kisah Keajaiban Cinta” dan “Masnawi” Rumi kemudian disadur dalam album “Laskar Cinta” baru-baru ini… Aiiiiihhh…

Syekh Siti Jenar, kemudian adalah seorang yang mencoba memperkenalkan aliran sufistik ini di bumi nusantara dengan “doktrin kematian”nya. Kematian disini adalah sebuah kondisi dimana kita berusaha “mematikan” kecintaan kita terhadap hal-hal yang bersifat duniawi, agar perasaan cinta kita hanya terfokus pada Allah saja. Tapi memang, keekstriman paham yang dibawa Syekh Siti Jenar ini, alih-alih mendapat pengakuan yang sama seperti Rumi dan Rabi’ah, justru mendapat tentangan dan label “aliran sesat”. Ia bahkan dianggap sebagai salah seorang dari “wali songo” yang “salah jalan”. Begitukah? atau memang ummatnya saja yang belum siap untuk menerima doktrin itu?

Lho… kok jadi ngelantur begini ya….
Katanya sekarang pengennya nulis yang ringan-ringan aja wan???
Jawab Awan : Ya ini kan masih cukup ringan toh???

Tapi memang, do’a Rabi’ah itu, tak pernah kehilangan pengaruhnya… mulai dari pertama saya membacanya saat SMA, sampai kemarin siang, setelah berulang kali… hawa dingin yang bergetar menjalar mulai dari perut sampai ke sekujur tubuh itu masih saja terasa…

Aaaah… wanita yang luar biasa, sungguh luar biasa…

Wallahualam…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s