Draft Drama Derita Salib

Posted: Februari 15, 2008 in All About Christian

NARATOR : Syaloom, saudara – saudaraku yang terkasih didalam nama Tuhan Yesus Kristus. Hari ini adalah hari yang sangat indah bagi kita semua untuk mendengar dan menyaksikan peragaan sebuah kisah indah tentang pengorbanan seorang tokoh maha suci.

(Yudas masuk dan berjalan menuju altar tempat para ahli taurat berkumpul)

Ini adalah kisah tentang seorang laki – laki yang tak berdosa tetapi mengemban tugas dan beban yang berat untuk menanggung semua dosa – dosa kita. Kisah ini adalah sebuah kisah yang penuh kontroversi dikalangan agama lain tetapi percayalah kisah ini benar adanya.

YUDAS : “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Yesus dari Nazaret kepada kamu?”

(Yudas berkata kepada ahli taurat)

NARATOR : Mendengar hal tersebut, para imam kepala merasa ada kesempatan untuk menangkap Yesus dan mereka menyerahkan 30 keping perak sebagai imbalannya.

(Para imam melemparkan sekantong uang kearah Yudas, lalu pergi keluar altar setelah itu baru Yudas berjalan keluar)

Sebuah imbalan yang sangat hina bagi harga sebuah jiwa yang maha suci dan maha kudus.

NARATOR : Sepi, dimana – mana gelap gulita, angin berhawa dingin menghembus dari sela – sela dahan pohon, sinar bulan yang bercahaya di atas pohon – pohon menyebabkan dahannya berkilat – kilat dengan indahnya. Juga tanah nampak keperak – perakan karena sinar bulan itu.

(Yesus dan para murid masuk dan berjalan disekitar taman buatan)

Bintang yang bertaburan menghiasi langit yang gelap itu berkelap – kelip dengan indahnya. Itulah keadaan dari sebuah taman kecil yang sepi.

YESUS : “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah disini dan berjaga – jagalah dengan Aku.”

(Yesus berkata kepada Simon Petrus sambil menyuruh mereka duduk dan kemudian maju sedikit, lalu sujud dan berdoa ditempat yang telah ditentukan)

YESUS : “Ya Bapa – Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada – Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Kau kehendaki.”

NARATOR : Dia berdoa dengan khusyuknya tetapi lihatlah ada apa dengan yang lain? Apakah mereka tertidur?

(Yesus berjalan menuju murid lalu membangunkan mereka dan berkata)

YESUS : “Tidakkah kamu sanggup berjaga – jaga satu jam dengan Aku? Berjaga – jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh kedalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

(Yesus pergi berdoa untuk kedua kalinya dan para murid kembali pergi tidur)

YESUS : “Ya Bapa – Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak – Mu.”

NARATOR : Dia sangat sedih, takut dan merasa gentar untuk menghadapi tantangan untuk menyerahkan jiwanya kepada kematian demi menebus semua dosa yang tak pernah Dia perbuat tetapi lihatlah mereka

(Yesus berjalan menuju para murid dan membangunkannya tapi tidak berkata apa – pun. Setelah itu kembali berjalan ketempat berdoa).

Mereka tetap saja tidur dan tak merasakan kepedihan yang Dia rasakan.

YESUS : “Ya Bapa – Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak – Mu.”

NARATOR : Sehabis berdoa untuk yang ketiga kalinya, Dia datang berjalan menemui mereka yang sedang tertidur dan membangunkannya serta berkata.

(Yesus berjalan menuju mereka dan membangunkan mereka)

YESUS : “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Cukuplah. Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang – orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

(Yudas, para imam taurat dan para serdadu masuk berjalan menuju Yesus dan para murid)

NARATOR : Mau apa orang – orang yang bersenjata itu? Mau menangkap siapa? Melihat senjata dan orang – orang sebanyak itu, musuh yang mau ditangkap tentulah sangat kuat.

YUDAS : “Salam Rabi.” (Yudas memeluk dan mencium Yesus).

YESUS : “Hai teman, untuk itukah engkau datang?”

(Para prajurit maju dan menangkap Yesus tapi tiba – tiba seseorang maju dan menghunuskan pedang kecilnya ketelinga seorang hamba Imam Besar dan para serdadu mau menangkap orang tersebut tapi terhenti karena larangan Yesus (Yesus mengangkat tangan kanan kearah prajurit dan berkata kepada Simon Petrus)).

YESUS : “Masukan pedang itu kembali kesarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang. Atau kausangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa – Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimana akan digenapi yang tertulis dalam kitab suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian.”

(Sehabis itu Yesus berjalan dan mengambil potongan telinga yang terputus dan menyambungkannya ketempat semestinya).

“Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap – tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi – nabi.”

(Setelah Yesus berkata demikan, para murid lari keluar panggung dan Yesus digiring keluar panggung lalu pembaca puisi masuk.)

PUISI 1 : Domba Paskah

Kebencian, dendam dan dengki,

ditudingkan kepada – Nya.

Kegagalan, kemurungan dan kecewa,

ditimpakan atas pundak – Nya.

(Serdadu dan Yesus masuk kerumah Imam Kayafas dan memperagakan teknik intrograsi tanpa ada percakapan)

Tangan – tangan rakus semakin serakah.

Jari – jari berkuku tajam penuh bisa.

Seperti anjing – anjing kelaparan,

rebutan tulang – tulang sisa.

Merobek – robek sang domba paskah.

(Yesus dan serdadu keluar)

Betapa hitamnya kesalahan,

yang dituduhkan pada – Nya.

Ia singa, Ia serigala,

Ia penghujat, Ia pendosa!

Padahal Ia – lah si anak domba,

penanggung segala bencana.

Pada tatapan mata – Nya.

Terkaca segala yang sempurna : cinta!

NARATOR : Setelah Yesus dibawa kerumah Imam Agung Kayafas tempat Yesus diintograsi oleh para imam dan ahli taurat, Yesus dibawa kehadapan Gubernur Pilatus.

(Yesus masuk bersama, orang banyak dan para pasukan romawi sambil dipukul dan didorong dan dibawa berjalan menuju altar tempat Pilatus. Sesampainya dialtar para imam memaksa Pilatus untuk menyalibkan Yesus).

Pilatus : “Sudah kamu antarkan Orang ini kepadaku dan kamu tuduh Ia menghasut rakyat, akan tetapi sesudah kuperiksa, ternyata Ia tidak bersalah. Orang ini bukan Orang jahat, jadi tidak patut dihukum mati.”

Orang Banyak : “Salibkan Dia……..Salibkan Dia……..Salibkan Dia……….”

Pilatus : “Apa salah – Nya?”

Orang Banyak : “Salibkan Dia……..Salibkan Dia……..Salibkan Dia……….”

Pilatus :”Baiklah, aku tidak bertanggung jawab atas kematian Orang yang tak berdosa ini. Kamu sendirilah yang harus menanggungnya.”

(Pilatus membasuh tangannya lalu keluar, dan Yesus digiring keluar lalu pembaca puisi masuk sedang Yesus segera dipasangkan salib dan mahkota duri).

PUISI 2 : Menatap Kota

Termangu di atas keledai muda

wajah luka memandangi kota

di depan masih terhampar baju luar

dedaunan palma

teriakan – teriakan histeris

seperti belati menyayat hati.

Hosana! Hosana!

Bagi mimpi yang lama dinanti!

Pandangan pun membayangkan

pilu dan napas penyesalan pada

kota dan bangsa

hanya sejengkal waktu

masih juga tidak mau tahu

Tuhan datang untukmu!

Bila kini Ia menatap kota Pekanbaru,

aku dan bangsaku,

akan berserukah kami Hosana! Hosana!

Lalu meratapkah Dia karena kita Dia disalibkan?

(Yesus keluar sambil memanggul salib dikawal serdadu yang memukulinya serta ada orang yang menghinanya disamping kursi dan diiringi lagu Tak Pernah Tinggalkanku)

Sebelum bernyanyi, penyanyi membacakan teks ini :

Yesus Engkau rela memberi segala yang Engkau miliki,

bahkan nyawa Engkau berikan ganti diriku,

demi kasih – Mu kepadaku.

Demi kasih sayang – Mu yang begitu besar, begitu ajaib,

kau angkat aku dari lumpur dosa,

dari kegelapan,

dengan kasih dan kuasa – Mu.

(Ketika lagu mau selesai, Yesus disalibkan sambil dinyanyikan lagu Sejauh Timur dari Barat dan setelah selesai lagu dinyanyikan pembaca puisi terakhir masuk sambil diiringi musik).

Puisi 3 : Firdaus Terbuka

Benarkah gapura tua

penutup firdaus suci

yang lama terkunci mati

sejak adam pergi

bersama istri,

sekarang terbuka kembali

oleh hantaman salib kudus?

Sebuah lengking jerit penghabisan

“Eli, Eli, Lama Sabakhtani!”

menggelegar di puncak bukit mati

menembus jarak tahun berjuta

menghancurkan si ular sanca berbisa

Benarkah firdaus tiada lagi sepi?

(Seluruh pemain maju kedepan untuk mengucapkan selamat paskah dan menyanyikan lagu terakhir Seperti Yang Kau Ingini setelah pembacaan puisi selesai)

Benarkah petualangan berakhir sudah

dan hidup tidak lagi menghidap maut?

Pedang api penjaga gapura

berhenti menyala

tersiram percikan darah?

Benarkah kini

Cinta putih menjelang datang

Firdaus terbuka bagi

Pendosa dan perempuan jalang?

Bapa!
aku ingin masuk firdaus

Hari ini bersama Yesus!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s